I Need a Voice




Aku mencintaimu!
Seharusnya mudah dan sederhana.
“Kenyataannya sulit untuk mengucapkan kata sependek itu kepadamu? Padahal, kata itu penuh di sini, dihatiku, hingga sesak. Kenapa tetap saja tidak bisa keluar, hah!”
***

Gadis itu tersenyum melihat sosok pemuda tampan yang melambaikan tangannya dan berlari menghampirinya.
Keduanya tersenyum. Kemudian, gadis itu menjatuhkan tubuhnya pada tubuh tegap pemuda tampan itu, meluapkan keriduan yang tertahan selama satu tahun ini. Pemuda itu pun melakukan hal yang sama, membalas pelukan dan menyandarkan dagunya di bahu kiri gadis itu.
“Aku merindukanmu, Divan.” Gadis itu berkata pelan. Namun, terdengar cukup jelas.
            “Aku juga sangat merindukanmu, Tara. “ Divan menyandarkan dagunya semakin dalam, hingga  pipinya menyentuh telinga Tara.
            Pelukan mereka semakin erat. Mereka tenggelam dalam lautan rindu. Seakan-akan hanya ada mereka berdua, di ruang kedatangan penumpang pesawat Inggris-Indonesia. Padahal, puluhan pasang mata memperhatikan adegan mesra itu.
Ada sesorang dengan mata yang mulai menghangat berdiri satu meter dari mereka. Berusaha menahan getaran emosi yang menyakitkan. Seseorang itu adalah aku.
Divan, ingin sekali aku memanggilnya, menyadarkannya bahwa aku juga ada di situ, bahwa aku juga merindukannya. Tapi, aku tak mampu. Aku hanya memalingkan pandangan ke lantai putih, dan menahan sesak di dada.
“Ahra.”
Aku mengangkat kepala mendengar ada yang menyebut namaku. Aku tersenyum. Akhirnya kau menyadari keberadaanku, Divan. Batinku bersyukur. Namun, aku sedikit kecewa, karena tidak ada pelukan kerinduan untukku. Ah, sudahlah. Aku bukan siapa-siapa.
Divan berjalan mendekatiku, bersama Tara. “Selama aku pergi, apa kau baik-baik saja?” Aku hanya mengangguk dan tersenyum. Lidahku kelu.
“Baguslah.” Tangannya mengacak-acak rambut pendekku. Aku salah tingkah.
“Van, ayo kita pulang.“ Tara menggapit lengan Divan. Secara tak langsung juga mengapit dadaku, hingga terasa sesak kembali.
“Ayo!” Divan menggeret koper besarnya. Mereka mulai berjalan dengan mesra. Sedangkan aku, hanya membuntuti mereka.
***
Aku menyandarkan punggungku di pintu gerbang rumahku. Ujung sepatuku memainkan kerikil-kerikil kecil. Aku menoleh ke ujung jalan, masih belum ada tanda-tanda kedatangannya.
Aku menaikkan resleting switter merahku. Udara mulai terasa dingin, tubuhku bahkan sudah mulai mengigil. Entah sudah berapa jam aku berdiri di jalan sepi ini, menunggunya. Jarum jam ditanganku sudah menunjuk ke angka sepuluh. Aku putus asa.
Aku tahu sekarang dia sedang bersama siapa. Siapa lagi, kalian juga pasti tahu.
Alasan Divan pulang ke Indonesia tak lain hanya karena ingin merayakan ulang tahun kekasihnya, Tara. Bahkan, sudah dua hari, dia habiskan bersama Tara. Aku? Siapa aku untuknya? Aku juga tidak tahu siapa aku untuknya. Yang aku tahu, dia adalah segalanya untukku.
Aku tahu, seharusnya aku tak punya rasa ini dikala dia sudah punya kekasih, tapi aku tak bisa menghapus cinta ini begitu saja. Mungkin amnesia yang kubutuhkan, tapi aku tak mau.
Sesungguhnya, aku pun ingin menepi dan berlari jauh, namun hatiku selalu mengarah ke arahnya. Sudahlah, biarkan aku berjalan di antara debu-debu yang melukai mata dan menyesakan dada, karena yang terpenting, aku bisa melihatnya.
Pelan aku memukul-mukul dadaku, menguatkan diri. Aku mulai melangkah menuju rumah.
“Ahra?”
Aku menoleh. Sebuah taxi berhenti tepat di sampingku. Divan?
Divan tersenyum lalu keluar dari taxi dan mendekatiku. “Kamu sedang apa di sini?”
Aku tidak menjawab hanya menatap wajah Divan, melihat raut bahagia di wajah tampannya. Dia pasti bahagia menghabiskan waktu bersama Tara.
“Ah, apa kau tidak bisa tidur lagi?” tanyanya lagi.
Aku mengangguk kaku. Kemarin malam aku juga menunggunya di sini. Rumahnya ada disampingku, sudah pasti kalau pulang melewati rumahku.
“Udara dingin, cepatlah masuk.” Divan tersenyum. Terlihat jelas di antara keremangan cahaya bulan.
Aku menggeleng, aku tidak mau seperti kemarin malam. Membiarkannya mengantarku sampai depan pintu masuk dan pergi, membuat penantianku sia-sia. Aku hanya ingin bersamanya, aku ingin dia memberikan sedikit waktunya untukku.
“Kau tidak ingin masuk sekarang?” tanyanya memastikan.
Aku mengangguk sambil tersenyum. Apa dia tahu apa yang ada di pikiranku? Seandainya itu benar.
“Ahra.”
Aku tersadar dari lamunanku. Dia tiba-tiba duduk beralas aspal dan bersandar pada pintu gerbang.
            “Aku akan menemanimu di sini.” Dia tersenyum sambil menepuk-nepuk aspal disampingnya. “Duduklah.”
Aku mengangguk mantap, dan duduk disampingnya. Akhirnya.
Bahagia, kata itu bisa mengambarkan apa yang aku rasakan. Bahkan, rasa pedih yang sempat menyergap, hilang seketika. Kesunyian menjadi alunan beku malam ini. Dia diam menatap langit kosong, dan aku diam menatapnya.
Divan selalu ada untukku. Dia sahabatku sejak TK. Rumah kita bersebelahan,  orang tua kami adalah sahabat. Dia orang yang selalu melindungiku,  memperhatikanku dan membuatku merasa nyaman. Namun, setelah kedatang Tara di hati Divan,  dua tahun lalu, semuanya berubah.
Aku merasa dia melupakan keberadaanku. Tapi, itu bukan hanya perasaan, ini kenyataan, dan aku merasa dia semakin jauh. Bisa dirasakan lewat kecangungan saat kita bertemu dan duduk bersama seperti ini. Dia bukan Divan yang dulu.
Aku terus menatap penuh lekukkan wajah tampannya dari samping. Padangan Divan tertuju ke langit yang mendung. Apakah dia sedang memikirkan sesuatu? Aku tersenyum kecut, mungkin dia memikirkan Tara. Ah, pedih itu datang lagi.
Aku menghela nafas panjang. Divan menoleh pelan ke arahku. Tubuhku menegang, ketika tiba-tiba dia menyelimuti punggungku dengan jaket denim yang sejak tadi dia kenakan. Aku menoleh ke arahnya. Ah Divan, andai aku bisa bicara cinta sekarang. Nyatanya kau memang bukan untukku.
***
Malam ini ada pesta ulang tahun Tara. Aku diundang, tapi tidak datang. Sungguh aku tak akan sanggup melihat kemesraan mereka. Apalagi kutahu malam itu Divan akan memberinya kado cincin perak.
Kemarin Divan mengajakku membelinya, untuk Tara. Dia sengaja mengajakku, karena ukuran jariku dengan Tara tak jauh beda.
Tadi Divan mengajakku bareng, aku menolak dengan alasan banyak PR. Padahal, sebenarnya tak ada satu pun PR. Aku hanya tak mau merasa sakit lebih dalam lagi. Menyaksikan saat cincin itu masuk ke jari Tara.
Aku berbaring di ranjang. Mataku menatap langit-langit kamar berwarna putih. Tuhan, sekarang aku mau jika amnesia sekalipun. Aku benar-benar ingin melupakan rasa cinta itu. Sekarang akhir segalanya.

0 komentar: