Dear Love, Wait Me



Malam itu sinar rembulan menilik perlahan menembus bingkai jendela yang belum ditutup gorden oleh Ara. Ditemani lampu kamar yang redup, berkas sinar rembulan jelas terlihat menyentuh tangan Ara yang sedang memainkan flashdisk ungu di tangannya, sesekali dia membuka tutup flashdisk, menutupnya lagi, membukanya lagi, memutar-mutarnya, dan tersenyum. Mengingat kembali kenangan dua bulan yang lalu.
******
Itu Bumbum, jika kalian pikir itu semacam mobil, salah. Bumbum adalah nama panggilan buat laptop kesayangan Ara. Ara memang aneh, punya kelainan karena imajinasinya terlalu tinggi.

Ara yang baru pulang dari rumah teman-temannya itu terlihat lelah, tapi bukannya mengambil segelas air, dia malah langsung membuka Bumbumnya itu. Maklum, Ara baru mengopi drama-drama Korea terbaru dari Putri dan tekadnya, “aku harus menonton semuanya malam ini.” Oh ya, foto-foto narsisnya selama di SMP dan SMA bersama teman-temannya juga dia kopi dari Zakiya, sebelum dia ke rumah Putri. Kemudian Ara menekan tombol power.
“Aishh ... flashdisk-ku mana?” Ara panik, semua isi tas pink-nya terbongkar, berserakan.
“Aduh! pasti ketinggalan di tempat Putri.” Segera dia mengambil ponsel yang terlempar jauh saat Ara membongkar tasnya tadi. Tapi belum sempat dia menekan tombol hijau, Ara teringat sesuatu.
“Ahh, ini pasti ketinggalan di rental komputernya Mas Kaka, tadi aku kan nge-print tugas di situ.”
Desktop belum terbuka, hanya sampai pada menu log-in dengan latar Choi Siwon tersenyum, dan sebuah account picture kecil bergambar cewek cantik memegang teddy bear pink, Ara langsung bergegas menuju tempat rental komputer Mas Kaka.
“Lea ... pinjam motornya lagi, bentar aja, flashdisk-ku ketinggalan.” Lea yang lagi di toilet tak sempat menjawab, dan Ara sudah menghilang.
***
“Pusing? Sejak kapan nama flashdisk-ku berubah menjadi pusing?” Dio bingung, nama flashdisk-nya berubah. “Ah, mungkin ini kerjaan Lian, tadi kan dia pinjam.” Dio mengerakan mouse-nya, hingga kursor mulai melangkah ke tulisan ‘pusing’ itu, dan mengkliknya.
Wow, tugas-tugas, lagu-lagu, beberapa catatannya, berubah menjadi serangkaian foto-foto narsis (foto-foto itu tidak dimasukkan ke dalam folder). Dio agaknya terpana dengan kecantikan foto-foto gadis itu, tapi rasa kehilangan tugas kuliah dan beberapa karyanya, membuat matanya yang terpana itu hanya sementara.
“Aduh kacau, Lian! flashdisk siapa ini?” Tangan Dio memukul jidatnya hingga mundur.
Flashdisk-mu kan? emang kenapa?” sahut Lian enteng, dia duduk di samping Dio, lalu melongo ke layar melihat apa yang terjadi.
“Ngarang, flashdisk-ku namanya genene enyong bukan pusing!” Dio sewot. Mengingat di dalam flashdisk-nya itu tersimpan tugas makalah yang harus dikumpul lusa, dan tugas ini sudah Dio kerjakan selama seminggu lebih. Bisa dibayangkan kan sakitnya?
“Kamu teledor banget Yan, sampai flashdisk pun tertukar?”
“Tertukar? Mana kutahu, tadi mas Kaka yang ngasih flashdisk ini setelah selesai ngeprint tugasku itu bentuk dan warna juga sama kaya punyamu.” Lian membela diri.
“Ahh udahlah, di rental komputernya mas Kaka kan? Aku ke sana, pinjam motor Yan, isi bensinku sekarat.” Dio bergegas keluar.
“Iya, nih kunci.” jawab Lian sambil memberikan kunci motornya.
 ***
Tidak sampai sepuluh menit, Ara tiba di tempat tujuan, rental komputernya Mas Kaka.
“Mas, ada flashdisk ketinggalan?” tanya Ara terburu-buru.
“Hmm, oh iya, tuh ambil aja, cuma itu flashdisk yang ketinggalan di sini.” Jawab Mas Kaka yang saat itu masih berkutat di depan layar komputer.
Tanpa pikir panjang lagi Ara mengambil flashdisk ungu itu, mengucapkan terimakasih kepada mas Kaka lalu melaju kembali dengan motor merah pinjaman, ia ingin cepat pulang. Malam sudah semakin larut, dan SS5 sebentar lagi mulai.
Setelah memarkir motor Lea sembarangan, Ara langsung berlari melewati kamar-kamar kos, menaiki anak tangga dan akhirnya masuk ke kamar , Bumbum yang masih dalam keadaan tertidur segera bangun ketika flashdisk ungu itu dipasang pada tubuhnya. Tak lama di pojok kanan bawah munculah kotak smadav, beberapa detik men-scane flashdisk itu mencari virus yang mungkin bersarang di flashdisk apalagi setelah flasdisk itu hinggap pada beberapa laptop milik orang lain: Zakiya, Putri, dan terakhir komputernya Mas Kaka.
Ahhh, ada banyak virus terdeteksi, dia segera menyuruh smadav untuk membersihkannya. Sambil menunggu smadav berkerja, dengan bakat menyanyi yang kosong namun memiliki kepedean luar biasa, dan beramsumsi bahwa suara cemprengnya itu seperti Gita Gutawa, dia mulai bernyanyi I Still Love, original soundtracknya Big yang dinyanyikan Suzy Miss A, meskipun hanya terdengar lirik depan dan “eemmmemmemm” sebagai lirik tengah lalu “ooooooooo” sebagai lirik akhir.
Kursor dia arahkan ke kotak kecil berwarna kecokalatan file eksplorer di ujung kiri laptop, dan klik, terpapanglah isi semua folder di laptop Ara. Dia merasa ada yang aneh dengan deretan disk-disk di komputernya, ada nama disk yang baru di sana, tertulis “genene nyong (G:)”, dia sedikit mengerutkan dahi, beberapa saat kemudian dia tertawa keras, nama disk itu menurutnya gokil, mengunakan bahasa jawa tegal alias medok yang mempunyai arti “punya saya”, dia garuk-garuk kepala, itu bukan nama flashdisk-nya. Dia ragu-ragu mengklik, berharap nama flashdisk itu diganti oleh salah satu temannya.
“Ahhh, ini bukan folder-folder-ku ... aduuuh!” Ara mengacak-ngacak rambut pendeknya. “O’ow kayaknya flashdisk-ku tertukar deh ... gimana ini?”
Ara menggigit jari menatap folder yang memenuhi flashdisk di depannya,dia mengoyang goyangkan laptopnya “Bumbum bagaimana ini?” Bumbum hanya diam, tak ada sahutan. Ya iya lah!
Helaan nafas panjang terdengar tepat ketika wajah Ara menelungkup di atas keyboard. Hanya sekejap, dia menatap kembali ke layar laptop membaca nama-nama folder di flashdisk “genene nyong”, ada tekanan batin di sini, di sisi lain dia tidak mau membuka folder milik orang lain, dan di sisi lainnya dia juga penasaran dengan isinya, apalagi saat hatinya berharap bahwa ada petunjuk tentang pemilik flashdisk ini. Tanpa banyak pikir lagi kursor mulai mengarah untuk mengklik tulisan “genene nyong” itu.
“Ra ... SS5 sudah mulai!Suara Lea dari ruang TV di luar.
Tidak mempedulikan laptop yang masih menyala, rasa penasarannya buyar. Ara keluar kamar dan duduk antusias di ruang TV.
***
Dio yang menggunakan motor Lian itu akhirnya tiba di rental komputernya Mas Kaka. Sekitar lima menit setalah Ara pulang.
“Mas, flashdisk-nya ketukar tadi.” Dio berbicara datar sambil meletakan flashdisk ungu di meja kaca sedikit dihentakan.
“Wah, tadi baru aja ada cewek yang ngambil flashdisk ketinggalan di sini, jadi itu flashdisk kamu?” Mas Kaka tetap pada posisi duduk menatap komputer.
“Pasti itu flashdisk-ku, aduuuh gimana ini?” Dio menghela nafas berat.
“Lain kali kalo punya flashdisk itu ditandai mas! biar gak ketuker.”
Dio mengela nafas berat lagi, dia tidak butuh ceramah, dia butuh flashdisk-nya kembali.
“Ya udah gini aja, dia pasti juga kebingungan,” Dio tersenyum kecut menutupi kekesalannya. “Kalau besok pagi dia ke sini mencari flashdisk-nya, suruh dia temuin aku di taman kampus, di bawah pohon mangga itu.”
Mas Kaka bergumam sambil mengangguk-angguk sebagai jawaban.
***
Awan kelabu menutupi langit kota Semarang, hujan hampir tiba. Suhu dingin membuat mata Ara sulit terbuka, ditambah lagi malam tadi dia menonton TV hingga pukul 01.00 dini hari. Dasar koreaholic, selalu lupa waktu kalau sudah korea dan sejenisnya muncul di TV.
Akhirnya Ara benar-benar terbangun saat hujan lebat mengguyur, membuat atap seng berbunyi nyaring. Walau hujan Ara tetap bersiap-siap, tujuannya kali ini bukan hanya ke kampus, tapi juga ke tempat Mas Kaka, mengurus masalah flashdisk tertukar ini. Clek, dia mengunci pintu kamarnya.
“Ra!” kepala Lea muncul dari sela-sela pintu kamarnya “aku ikut kopi drama Korea dong?”
Wajah Ara menjadi tidak beraturan, “flashdisk-ku tertukar Lea ... Huaaa!!”
“Lha, kok bisa? Coba sini mana flashdisk-nya, mumpung laptopku udah nyala, kita cari tahu siapa pemiliknya.” Kata Lea menyuruh Ara masuk ke kamarnya.
Sambil menunggu hujan berhenti, mereka berdua mengobrak-abrik isi flashdisk itu. Ada lagu-lagu keroncongan di dalam folder flashdisk, ada tugas-tugas morfologi, sintaksis, fonologi, yang membuat mata Ara dan Lea sedikit perih. Mata mereka berdua berakhir pada sebuah pas foto ijazah, kemudian diperbesar hingga tulisan yang berada pada bajunya terlihat jelas.
“Handio.” eja Ara dan Lea pelan.
“Dio!” pekik Lea keras hingga Ara mencubit lengan sahabatnya itu kesal karena mendapat sengatan lirik dijantungnya, Lea nyengir sambil mengaduh.
“Kamu kenal orang ini Le?”
“Tentu.” Lea mengangguk-angguk, tangannya mengelus-ngelus foto resmi Dio berlatar merah sesuai dengan wajah Lea sekarang, “aku ngefans banget sama dia, dia itu kakak kelasku saat SMA, dari dulu aku pengin banget punya fotonya, sekarang akhirnya kesampaian, aku ikut kopi Ra!”
“Haha, lebay deh, cepat kopi, aku mau ngembaliin flashdisk-nya nih,” tanpa aba-aba pun Lea sudah memindahkan foto Dio ke laptopnya, lalu meng-eject flashdisk itu dan menciumnya, cinta itu bisa membuat orang gila menjadi semakin Gila. “sini ah.. flashdisk-nya entar penuh virus.”
Bibir tipis Lea maju beberapa senti, Ara tertawa, menjulurkan lidahnya dan bergegegas pergi menjauh dari radiasi teriakan Lea, walaupun Ara sudah menuruni tangga teriakan Lea terdengar keras, dan Arapun hanya tertawa.
***
Hujan telah berhenti, kuliah dibatalkan karena hujan, atau mungkin karena memang dosennya yang malas mengisi kuliah. Tapi Ara tetap pergi ke kampus. Kenapa? Kan sudah dibilang, Ara ingin mengambil flashdisk-nya.
“Mas Kaka tadi bilang aku disuruh menunggu di sini.” Ara duduk di bawah pohon mangga yang buahnya mulai meranum, membuka laptopnya.
Suasana masih mendung dirasa tepat untuk melanjutkan novelnya yang telah lama terbengkalai. Sedikit informasi, Ara itu memiliki obsesi menjadi penulis terkenal, hingga bisa menghasilkan uang sendiri.
Satu per satu kata mulai dirangkai, hingga terbentuk satu paragraf.
“Hmm, halo?” seorang cowok tinggi menggendong sebuah gitar dengan memegang sebuah flashdisk di tangan kanannya menyapa, dan sedikit merusak konsentrasi Ara.
“Pasti Dio? Nih flashdisk-nya.” Ara langsung mengambil flashdisk Dio dari dalam tasnya.
Cowok ini mengulurkan tangan, tapi bukan memberikan flashdisk, “Lian Abrizam, panggil aja Lian, orang yang bertanggung jawab atas kasus tertukarnya flashdisk kamu dan Dio.”
“Ow jadi kamu bukan Dio, aku kira Dio yang punya flashdisk ini.” sahut Ara, tapi ada sedikit penyesalan dengan ucapannya tadi, Ara secara tidak sengaja memberi isyarat bahwa ia telah membuka isi flashdisk Dio.
“Iya Dio yang punya, tapi ketuker gara-gara aku ...” ujar Lian penuh penyesalan.
“Oh ...,” kata Ara dengan nada berliku-liku, merasa lega Lian tidak sadar kalo dia sudah membuka flasdisk itu. Lalu dia mengulurkan tangannya, menirukan cara Lian tadi. “Mutiara Syifa, panggil aja Ara.”
Lian menyambut tangan lembut Ara dengan senyum.
Tes ... sebutir air hujan mengenai Bumbum, Ara segera melindungi Bumbum memasukannya kedalam tas, mereka berdua menatap ke langit sekilas, awan mendung semakin menjatuhkan isinya, mereka berdua bergegas mencari tempat berteduh, mereka berhenti di parkiran kampus, tempat terdekat dari taman.
Hujan deras menyatu bersama tawa Lian dan Ara, mereka sudah mulai akrab meskipun baru bertemu tadi, sifat humoris dan supel Lian membuat Ara, cewek kaku setiap berhadapan dengan cowok, berubah menjadi cewek yang asik untuk diajak ngobrol. Secara terbuka dan blak-blakan Lian menceritakan siapa dirinya, dan ini membuat Ara terkesan dengan kejujurannya.
Dingin hari itu tergantikan dengan hangatnya cinta pada pandangan pertama. Jaket Lian yang melekat di tubuh Ara pun membuat kesan manis pada pertemuan itu. Ara jatuh cinta.
Sebelum mereka berpisah, tak lupa mereka mengembalikan flashdisk masing-masing, mereka juga sempat bertukar nomor ponsel, dan satu lagi, Ara juga menitipkan salam Lea untuk Dio kepada Lian. Haha, padahal kan Lea sama sekali tidak menitip salam, tapi pikir Ara kalau tidak diberitahu, cinta mana pernah bisa diketahui.
***
Hari demi hari, minggu-minggu berlalu, Lian semakin akrab dengan Ara. Hubungan mereka sudah seperti orang pacaran, ke mana-mana berdua. Tiap malam inbox Ara penuh dengan nama “Pengamen Gak Laku” nama Lian dirubah secara sepihak. Tapi bukan Ara saja, Lian juga merubah nama Ara dengan “Korea Nyasar” di ponselnya. Mereka berdua memang serasi, satu bikin lagu tapi gak laku-laku, satunya lagi disorientasi dengan negara sendiri.
Ah iya, bukan cuma Ara dan Lian. Dio dan Lea juga. Semakin akrab, apalagi Lea, sahabat terbaik Ara yang berkelakuan semacam cacing kepanasan ini, mudah sekali akrab dengan semua orang. Mudah sekali akrab? Lantas mengapa tidak dari dulu saja Lea mendekati Dio? Begini, Dio tersenyum padanya saja sudah membuat lidahnya kelu. Cewek cacing kepanasan mendadak menjelma putri bercadar dari negeri seribu satu malam. Mendadak anggun dan pemalu.
“Kapan ya, Lian nembak aku.” Ara curhat dengan Lea.
“Ya, kapan-kapan, mungkin menunggu momen yang tepat.” Lea menjawab datar.
“Aduh, jawaban apaan? Gak membantu sama sekali,” Ara agak menyesal curhat dengan Lea. “Lea, gimana dengan Dio?” Ara mulai jahil.
“Gak tahu nih, kapan ya dia nembak aku?” jawab Lea.
“Entahlah Lea, mungkin nunggu momen yang tepat, haha ...” Ara puas sekali ketawanya.
“Araaa …!” Lea yang mudah emosi itu melempar bantal ke wajah Ara.
Hingga larut malam mereka saling curhat dengan perasaan mereka masing-masing, dua insan yang sedang jatuh cinta, dua insan yang sedang menunggu.
******
Malam itu sinar rembulan menilik perlahan menembus bingkai jendela yang belum ditutup gorden oleh Ara. Ditemani lampu kamar yang redup, berkas sinar rembulan jelas terlihat menyentuh tangan Ara yang sedang memainkan flashdisk ungu di tangannya, sesekali dia membuka tutup flashdisk, menutupnya lagi, membukanya lagi, memutar-mutarnya, dan tersenyum.
flashdisk ungu Lian,” ucapnya dalam hati sambil tersenyum, “kata Dio, ada kejutan Lian di dalamnya.” Ara semakin penasaran, Bumbum sudah menyala, tinggal dicolokkan saja flashdisk-nya.
Di luar, Dio yang mengantarkan flashdisk Lian ini, mengobrol akrab dengan Lea. Nampaknya malam ini adalah momen yang tepat itu untuk Lea. Dio tiba-tiba menggenggam kedua tangan Lea, menatap matanya, dan mengatakan kalimat yang Lea tunggu-tunggu sejak dulu.
“Lea, aku suka sama kamu, maukah kamu menemani hatiku, selamanya?” Ucapan Dio itu benar-benar membuat Lea tak mampu berkata apapun, hanya isyarat anggukan yang berarti “ya” yang bisa dia lakukan.
Malam ini benar-benar kemilau di hati Lea, bintang Dio dan bintang Lea tak lagi tertutup awan gelap, semua sudah jelas. Sepasang kekasih kembali benderang di langit, di antara berjuta bintang.
***
Ara tersenyum bahagia melihat mereka dari kamar, dan berharap apa yang terjadi pada mereka juga terjadi kepadanya.  Berharap Lian juga mempunyai perasaan yang sama dengannya.
Kursor mulai menuju disk yang bernama “Lian” itu. Hanya ada satu file di sana, file video. Tanpa ragu Ara mengklik file tersebut.
Video mulai terputar, sebuah foto Ara yang sedang memangku laptopnya di bawah rindang pohon mangga, Ara tersenyum sambil membaca tulisan di bawah foto itu. “Ini pertama kali aku bertemu denganmu, Mutiara Syifa, aku sangat berterimakasih kepada Dio dan tentu Mas Kaka, dan tak lupa pada Pohon Mangga itu, jujur langkahku berhenti beberapa saat ketika melihatmu dari jauh, ada getar aneh dihati ini, dan tanpa sadar aku mengambil foto ini”
Beberapa detik setelah Ara membaca tulisan itu, foto berganti dengan foto Ara dengan bibir maju memandang gitar dipangkuannya. Ara tertawa kecil membaca tulisan dibawah foto itu.
“Hahaha, aku ingat kamu marah-marah sambil bilang gitar rese kenapa bunyimu fals hah? Dasar, udah berulang kali aku ngajarin kamu, tapi tetep aja nggak bisa-bisa.
Foto-foto selanjutnya sama mengambarkan kenangan-kenangan cinta mereka berdua, mulai dari awal hingga sekarang, dari foto yang diambil secara transparan atau sembunyi-sembunyi, dan berakhir pada sosok Lian dengan T-shit ber-background kamar kosnya yang berantakan.
Lian tersenyum, lalu dia berkata dengan nada serius “Mutiara Syifa, aku tau aku hanya pengamen yang tidak laku, tapi bolehkah aku mengamen dihadapanmu setiap hari? Karena aku ingin menyanyikan lagu-lagu cinta yang aku buat untukmu, dan aku berharap kau membayarnya dengan cintamu, aku mencintaimu Ara, boleh aku menjadi tokoh utama dalam novel-novel yang kau terbitkan dihatimu?”
Nafas Ara berhenti tepat dengan suara Lian berhenti, Ara mengulang lagi video itu, dia masih belum percaya dengan apa yang dia lihat dan dengar tadi, air mata Ara mulai berjatuhan ketika sekali lagi Lian mengucapkan penyataan cintanya, dia tersenyum, namun kemudian diam, raut wajahnya melemah.
Nasehat Ayah Ara lima tahun lalu berbisik lemah dari ingatan Ara, lima tahun lalu ketika Ayah kembali kehadapan yang maha Kuasa.
“Ara, kamu itu satu-satunya mutiara Ayah, jaga diri baik-baik, kejar cita-citamu, jangan pacaran dulu, Ayah sayang Ara.”
Ara berjanji pada dirinya sendiri dia akan melakukan nasehat itu, Ara kembali menitihkan air matanya, kini air matanya bukan lagi air mata bahagia tapi air mata ketidak berdayaan, dia mencintai Lian, namun dia tidak mungkin mengikari janjinya dan membuat Ayahnya kecewa.
***
Ara mengedarkan pandangannya menikmati aura kenangan masa lalu di tempat ini, di bawah pohon mangga di taman kampus pertama kalinya dia bertemu dengan Lian, dia merunduk, matanya mulai panas, dia genggam erat flashdisk ungu Lian. Namun akhirnya air mata mengalir melihat dari jauh raut wajah bahagia Lian, mengetahui Ara menangis Lian bergegegas berlari mendekat.
“Ada apa Ra?” Lian berlutut didepan Ara yang duduk. Jantungnya tiba-tiba berhenti melihat cewek yang dia cintai menangis.
Ara menghapus air mata mencoba tetap tenang, setelah menghela nafas Dia mulai menjelaskan semua kepada Lian, betapa dia mencintai Lian, dan betapa dia juga menyayangi Ayahnya. Ara bercerita tentang keinginan Ayahnya melihatnya berhasil meraih cita-cita, keinginan Ayahnya melihatnya bahagia, dan keinginan Ayahnya agar Ara tidak dulu pacaran hingga cita-citanya benar-benar tercapai.
Lian hanya bisa diam. Lian ternyata juga meneteskan sedikit air mata, bukan karena cintanya yang harus ditunda dulu, tapi karena rasa sayang Ara kepada Ayahnya membuat hati Lian bergetar, dan bersedia menuggu Ara hingga cita-citanya terwujud.
***
Setahun berlalu, sejak kejadian itu. Lea dan Dio sekarang semakin lengket saja, bagi Dio ini adalah pacaran terlama yang pernah dia jalanin. Bagi Lea semoga pacaran kali ini adalah yang pertama dan yang terakhir kali.
“Mari kita sambut penulis kita, Mutiara Syifa.” kata seorang MC saat membawakan acara jumpa pers novel “Ara Juga Sayang Ayah” yang best seller seluruh Indonesia itu. Pencapaian yang luar biasa dari seorang gadis berumur 21 tahun itu.
Lian duduk antusias di kursi depan, bangga melihat cewek yang dia cintai sudah mampu mewujudkan mimpinya, dan duduk sebagai pembicara di depan. Lian sekarang juga sudah menjadi musisi pengiring sebuah kelompok teater terkenal di ibu kota.
Di tengah acara, Ara menyelipkan obsesi selanjutnya, dan diiringi tepuk tangan pengunjung di sana.
“Lian, aku sudah menjadi penulis, dan kamu sekarang bukan pengamen gak laku lagi, kali ini aku punya satu obsesi lagi, dan ini perlu bantuanmu Lian, aku pengin membuat sebuah film.”

--TAMAT—

0 komentar: